The hardest part of being away from your family: you cannot go home straightaway when something came up. It’s the first time ever a close relative passed away. Having an overwhelmed mix of emotions and remembering the last time I saw my grandpa. Afscheid en hebben een goede nachtrust, eyang kung.

View on Path

Kuliah di luar negeri engga seindah cerita negeri van oranje yang kayaknya cuma buat jalan-jalan, makan, seneng-seneng.

Percayalah di balik jalan-jalan ada perjuangan ngumpulin duit buat trip. Ngirit pengeluaran, berhemat, gak jajan terus.

Percayalah di setiap foto makanan enak, itu ada orang yang berbaik hati masakin, atau perjuangan nyobain resep, atau ngidam sejak lama makanan yang susah nyarinya kalo ga di Indo

Percayalah di setiap seneng-seneng itu, ada rasa lega seusai penat ujian, pusing nesis, ga ngerti bahan pelajaran, tugas yang numpuk, dan menahan kantuk habis begadang

Percayalah di setiap senyum lebar tiap foto tersebut, ada rasa kangen pada setiap orang terdekat dan berharap mereka juga dapat melihat-merasakan momen tersebut.

Percayalah bahwa tidak ada hidup yang begitu nyaman, Tuhan punya ujian masing-masing bagi setiap manusia. Hanya tidak semua membagikan setiap detil ceritanya.

View on Path

Kebahagiaan menjadi Cucu Eyang Soekandar

Seumur hidup saya, belum pernah saya merasa tidak bahagia menjadi cucu Eyang Soekandar. Betapa tidak, Eyang Kakung dan Putri sungguh menyayangi cucu-cucunya. Foto cucunya dipajang di setiap sudut kamar dan lebih banyak ketimbang foto anak-anaknya. Saking sayangya, Eyang Kakung punya daftar tersendiri julukan bagi setiap cucunya dari memori yang ia miliki bersama masing-masing cucunya. Misalnya, saya punya julukan “miyah kan” karena dulu saya melihat eyang menjadi merah karena dikerok. Lalu ada pula waktu-waktu khusus yang diberikan Eyang Soekandar bagi cucu-cucunya, yakni waktu ujian kenaikan kelas, penerimaan rapor, dan libur kenaikan kelas. Sebelum ujian, kami akan meminta doa restu dari eyang dan tentu beliau akan mendoakan sambil memberikan beberapa nasehat. Saat penerimaan rapor, kami akan memberikan laporan hasil belajar kami selama ini lewat telepon. Lalu eyang akan menunggu (dan sambil agak memaksa) untuk kami  pulang ke rumah Muntilan saat liburan kenaikan kelas. Tahu kami akan datang, eyang pasti sudah menyiapkan semua suguhan dari snack, makanan, dan segala rupa. Secara persisten Eyang Putri menyuruh kami makan setiap saat, seakan-akan makan hanya tiga kali sehari adalah hal yang aneh. Eyang Putri lalu akan menekan perutmu, untuk mengkonfirmasi apakah kamu sudah makan atau belum. Karena beliau tidak akan percaya begitu saja kalau kamu sudah makan, padahal kamu baru saja selesai makan bersamanya beberapa saat yang lalu. Lalu saat waktu istirahat malam, kami diajak berdoa dan beliau akan mendoakan kami serta ngelonin cucunya, bahkan tidak jarang beliau malah lebih senang tidur di ranjang bersama cucunya ketimbang di ranjangnya sendiri. Saat liburan berakhir dan hendak pulang ke Jakarta, mata kami akan berbinar karena eyang pasti bakal memberi sangu.

Kami tahu begitu sayangnya Eyang kepada kami dari cerita orang-orang sekitar. Beliau begitu bangga terhadap cucu-cucunya dan tidak takut untuk menceritakan kami kepada  orang-orang sekitarnya. Bahkan kadang kami takjub pada sebaran informasi yang orang lain miliki tentang kami. Kebanggaan ini juga kami miliki terhadap beliau berdua, karena mereka bisa jadi lebih terkenal dari Kim Kardashian dan Kanye West di tiap sudut Muntilan. Waktu dulu sering diajak jalan-jalan oleh eyang, kamu akan kagum betapa banyaknya orang yang beliau sapa. Saya menjadi tidak takut untuk hilang di Muntilan, karena semua orang (nampaknya) bisa menunjukkan dimana rumah Eyang Soekandar. Beliau sungguh menjadi panutan bagi lingkungannya. Beliau aktif di berbagai kegiatan rohani dan sosial. Tidak hanya di lingkungan, beliau berdua juga aktif menekankan nilai-nilai rohani di rumah. Setiap liburan natal, eyang pasti memasang kandang natal ketimbang pohon terang lalu berdoa bersama di depan kandang setiap natal. Waktu saya kecil, saya sering diajak duduk di kursi paduan suara bersama Eyang Putri sementara Eyang Kakung menjadi petugas diakon. Saya melihat sungguh keteladanan aktif bukan sekedar kata-kata belaka. Eyang Putri juga senang menceritakan kisah-kisah santa/santo pelindung sebagai inspirasi iman Katolik dalam dongeng sebelum tidur.

Perasaan dikasihi oleh eyang juga tercermin dari cara mereka berkomunikasi kepada kami. Salah satu memori indah saya bersama eyang adalah waktu saya mendapat tugas menulis surat untuk pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 SD. Saya memutuskan untuk menulis surat kepada eyang dan benar-benar mengirimnya untuk eyang. Sekitar dua minggu kemudian saya mendapatkan surat balasan dari eyang. Saya tidak ingat lagi apa yang saya tuliskan dan apa isi surat balasan eyang, tapi saya ingat betul rasa bahagia saat menerima surat balasan bersama kata-kata awal yang saya baca di surat itu; Kepada Ytc Ananda Regina Pusparani Krisnamurthi. Waktu itu saya cuma tahu singkatan Yth – yang terhormat dan itu yang saya tujukan untuk eyang di surat awal saya, dan beliau membalasnya dengan Ytc – yang tercinta dengan lekukan tulisan sambung khas eyang. Meskipun seorang jawa tulen, beliau berdua tidak memegahkan diri dengan gelar keraton atau tunduk pada sistem patriarki Jawa. Eyang tidak memaksa cucu-cucunya harus menggunakan Krama Inggil untuk berbicara kepada mereka, namun akan menggunakan Krama Inggil dengan orang lain. Bentuk keutamaan lain yang saya pelajari dari eyang, yaitu selalu menghormati orang lain siapa pun dia. Saya ingat dulu seringkali ada penjual pecel keliling yang mengetuk pintu rumah setiap pagi untuk menjajakan makanan. Awalnya saya senang, eyang pasti membelikan tahu dan sate usus untuk saya, tapi lama-lama saya bosan juga kenapa sih si mbok ini nyamperin tiap hari. Lain halnya dengan Eyang Putri yang selalu menerima mbok pecel dengan senyum, membeli barang dagangannya, dan meladeni ramah-tamah basa-basi itu. Saya bertanya pada eyang mengapa ia tidak terganggu harus meladeni itu hampir setiap hari, ia menjawab bahwa kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki dan berusaha membantu orang lain yang tidak seberuntung kita.

Eyang Soekandar juga senang bercerita tentang bagaimana pengalaman Eyang waktu jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Bagaimana pengalamannya bersekolah di HIS, turut berjuang melawan Jepang dan Belanda, menyelundupkan senjata, hingga pengalamannya saat kecil. Ia juga suka bercerita tentang Eyang Yut dan membandingkan dengan bagaimana keadaannya sekarang. Saya seringkali menjadi sedih bahwa Eyang senang curcol betapa rindunya ia dengan riuh cucunya saat berkunjung, karena rumah Muntilan seakan-akan dijadikan hotel singgah saat berlibur. Hal ini kontras dengan suasana rumah Eyang Yut senantiasa dikelilingi oleh anak cucunya. Tetapi Eyang Kakung juga tidak mau tinggal bersama anak cucunya, ia ingin menjadi pribadi yang mandiri hingga di masa tuanya ini.

Terlalu banyak pembelajaran dan cerita, serta kasih sayang yang saya alami dari kedua eyang saya. Sekarang eyang sudah tidak lagi seaktif dan secemerlang dulu, dan semakin menyadari bahwa kondisi eyang bukanlah hal yang mudah bagi mereka dan bagi kita. Eyang bisa mengurus semua anak cucunya, tetapi kita belum tentu bisa mengurus beliau berdua. Setiap kali menelpon beliau, Eyang Putri tidak lagi menanyakan bagaimana hasil rapor tapi  menanyakan siapa ini suara di ujung saluran lain. Eyang Kakung tidak lagi bisa diajak jalan-jalan, karena beliau seringkali semaput. Memang eyang sudah tidak seperti dulu lagi, tapi justru saya masih bersyukur beliau berdua masih hadir di tengah-tengah kita menjadi pengamat kita. Tetapi tidak selayaknya eyang hanya cukup menjadi pengamat. Di tengah keterbatasan mereka, tetaplah kita melibatkan dan menyayangi mereka. Bahwa mereka tetaplah pribadi-pribadi signifikan dalam hidup kita.

IMG-20150115-WA0011

Bersyukur banget, dapet kesempatan riset seru di sini. Ya masih kaget bahwa “riset” dan “seru” bisa bersisian. Sumber pembelajaran dan pengalaman tersendiri untuk keluar dari zona nyaman.
Presentasi final di departemen sendiri besok Jumat, colloquium November, laporan thesis akhir bulan ini, plus kesempatan co-author di jurnal riset internasional.
Huphup. Semangat! – at Gorlaeus Laboratoria

View on Path

Perjuangan Ide

Tulisan ini dibuat sebagai motivation letter dalam pencalonan sekjen PPI Belanda 2015/2016.

Bagi saya pribadi, berorganisasi adalah sarana aktualisasi diri karena dapat menjadi stimulan positif untuk selalu bergerak dan berpikir selain fokus terhadap akademik. Berpartisipasi aktif dalam suatu organisasi merupakan passion saya. Banyak motivasi yang dapat menjadi alasan seseorang dalam berorganisasi, tetapi bagi saya adalah mengemban tanggung jawab untuk melayani dan membantu orang lain.

Katalis saya untuk mencalonkan diri menjadi Sekretaris Jendral Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda adalah semangat untuk mengabdi, melayani, dan memfasilitasi teman-teman dari tiap PPI kota agar dapat mengoptimalkan potensi mereka. Bahwa PPI Belanda tidak menjadi PPI kota kesekian atau event organizer semata, tapi dapat mengkolaborasikan sumber daya dan menjalin komunikasi yang efektif ke setiap PPI kota serta para stakeholder agar lebih terasa manfaatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan adanya transparansi dan akuntabilitas kinerja pengurus yang dipantau secara efektif bersama para presidium dan pengurus demi tercapainya sistem kepengurusan PPI Belanda yang handal.

Tujuan utama saya datang ke Belanda adalah untuk menuntut ilmu sehingga dapat menyiapkan diri menjadi ahli dalam bidang keilmuan yang saya miliki dan dapat menerapkannya untuk pembangunan Indonesia di bidang kesehatan. Semangat ini saya rasakan ketika saya berkesempatan untuk menjalani kuliah di Institut Teknologi Bandung dengan mengambil jurusan Sains dan Teknologi Farmasi serta melanjutkan pendidikan profesi Apoteker. Menjadi seorang farmasis dan terlebih lagi seorang apoteker, membuat saya sadar bahwa apa yang saya lakukan terutama dalam membuat suatu sediaan obat hingga sampai ke tangan pasien, terdapat banyak hal yang perlu diperhatikan keamanan dan manfaatnya. Suatu effort dan keinsyafan tersendiri yang ditanamkan dalam diri saya untuk peduli kepada orang lain. Saya percaya bahwa sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Apalagi ditambah paparan aktivitas kemahasiswaan di ITB yang makin membuka wawasan saya bahwa terdapat banyak masalah dalam bangsa Indonesia dan keinginan saya untuk menjadi solusi bagi permasalahan-pernasalahan tersebut.

Dalam Latihan Dasar Kepemimpinan Mahasiswa yang diselanggarakan oleh kepengurusan PPI Belanda 2014/2015, saya bertemu dengan banyak teman seperjuangan dalam menuntut ilmu di negeri kincir angin. Pertemuan dengan mereka membuat saya berpikir tentang potensi luar biasa kaum muda Indonesia yang sedang menempuh studi di Belanda. Namun potensi yang luar biasa tersebut belum dapat diaktualisasikan sepenuhnya. Terlebih lagi kedekatan saya dengan banyak teman dari berbagai bidang keilmuan di berbagai kampus terkemuka di negeri Belanda ini membuat saya merasa banyak sekali yang dapat saya lakukan di sini dengan bergerak di kepengurusan PPI Belanda.

Aneka pertimbangan dan adanya kesempatan ini, membulatkan tekad saya untuk mencalonkan diri menjadi Sekretaris Jendral Perhimpunan Pelajar Indonesia di Belanda agar dapat membawa PPI Belanda sebagai wadah berkarya, berkolaborasi, dan berekreasi dengan mengusung kontribusi yang kritis dan membangun. Hal ini dapat dilakukan dengan meningkatkan kesadaran dan peran pelajar Indonesia dalam berkarya untuk Indonesia, menjadi mitra PPI kota dalam meningkatkan aktualisasi diri anggotanya, serta memfasilitasi dan menindaklanjuti aspirasi anggota

Bung Hatta pernah menyerukan, “Hanya ada satu negara yang pantas menjadi negaraku, ia tumbuh dengan perbuatan, dan perbuatan itu adalah perbuatanku.” Besar harapan saya bahwa niat baik dan perbuatan saya ini dapat diterima oleh semua anggota PPI Belanda dalam berkarya untuk masa kepengurusan 2015/2016.

Hari Bapak Sedunia

Ini namanya Pak Bambang;
ceritanya waktu di Bromo beliau bilang: “Kak Rani, papa mau juga dong difoto sambil loncat kayak (Rani) tadi di padang”

Beliau adalah sparing partner buat berdebat, yang suka kemrungsung, dan klo lagi moody suka ngeselin

Dari beliau saya belajar bertindak dan berpikir. Sampai suatu kesimpulan bahwa casing boleh mirip Ibu Yani, tapi isinya bapake.

Selamat hari ayah kepada ayah yang dengan segala ketidaksempurnaannya adalah terbaik yang Tuhan telah berikan kepada saya.

*edisi kangen

View on Path