Kebahagiaan menjadi Cucu Eyang Soekandar

Seumur hidup saya, belum pernah saya merasa tidak bahagia menjadi cucu Eyang Soekandar. Betapa tidak, Eyang Kakung dan Putri sungguh menyayangi cucu-cucunya. Foto cucunya dipajang di setiap sudut kamar dan lebih banyak ketimbang foto anak-anaknya. Saking sayangya, Eyang Kakung punya daftar tersendiri julukan bagi setiap cucunya dari memori yang ia miliki bersama masing-masing cucunya. Misalnya, saya punya julukan “miyah kan” karena dulu saya melihat eyang menjadi merah karena dikerok. Lalu ada pula waktu-waktu khusus yang diberikan Eyang Soekandar bagi cucu-cucunya, yakni waktu ujian kenaikan kelas, penerimaan rapor, dan libur kenaikan kelas. Sebelum ujian, kami akan meminta doa restu dari eyang dan tentu beliau akan mendoakan sambil memberikan beberapa nasehat. Saat penerimaan rapor, kami akan memberikan laporan hasil belajar kami selama ini lewat telepon. Lalu eyang akan menunggu (dan sambil agak memaksa) untuk kami  pulang ke rumah Muntilan saat liburan kenaikan kelas. Tahu kami akan datang, eyang pasti sudah menyiapkan semua suguhan dari snack, makanan, dan segala rupa. Secara persisten Eyang Putri menyuruh kami makan setiap saat, seakan-akan makan hanya tiga kali sehari adalah hal yang aneh. Eyang Putri lalu akan menekan perutmu, untuk mengkonfirmasi apakah kamu sudah makan atau belum. Karena beliau tidak akan percaya begitu saja kalau kamu sudah makan, padahal kamu baru saja selesai makan bersamanya beberapa saat yang lalu. Lalu saat waktu istirahat malam, kami diajak berdoa dan beliau akan mendoakan kami serta ngelonin cucunya, bahkan tidak jarang beliau malah lebih senang tidur di ranjang bersama cucunya ketimbang di ranjangnya sendiri. Saat liburan berakhir dan hendak pulang ke Jakarta, mata kami akan berbinar karena eyang pasti bakal memberi sangu.

Kami tahu begitu sayangnya Eyang kepada kami dari cerita orang-orang sekitar. Beliau begitu bangga terhadap cucu-cucunya dan tidak takut untuk menceritakan kami kepada  orang-orang sekitarnya. Bahkan kadang kami takjub pada sebaran informasi yang orang lain miliki tentang kami. Kebanggaan ini juga kami miliki terhadap beliau berdua, karena mereka bisa jadi lebih terkenal dari Kim Kardashian dan Kanye West di tiap sudut Muntilan. Waktu dulu sering diajak jalan-jalan oleh eyang, kamu akan kagum betapa banyaknya orang yang beliau sapa. Saya menjadi tidak takut untuk hilang di Muntilan, karena semua orang (nampaknya) bisa menunjukkan dimana rumah Eyang Soekandar. Beliau sungguh menjadi panutan bagi lingkungannya. Beliau aktif di berbagai kegiatan rohani dan sosial. Tidak hanya di lingkungan, beliau berdua juga aktif menekankan nilai-nilai rohani di rumah. Setiap liburan natal, eyang pasti memasang kandang natal ketimbang pohon terang lalu berdoa bersama di depan kandang setiap natal. Waktu saya kecil, saya sering diajak duduk di kursi paduan suara bersama Eyang Putri sementara Eyang Kakung menjadi petugas diakon. Saya melihat sungguh keteladanan aktif bukan sekedar kata-kata belaka. Eyang Putri juga senang menceritakan kisah-kisah santa/santo pelindung sebagai inspirasi iman Katolik dalam dongeng sebelum tidur.

Perasaan dikasihi oleh eyang juga tercermin dari cara mereka berkomunikasi kepada kami. Salah satu memori indah saya bersama eyang adalah waktu saya mendapat tugas menulis surat untuk pelajaran Bahasa Indonesia kelas 3 SD. Saya memutuskan untuk menulis surat kepada eyang dan benar-benar mengirimnya untuk eyang. Sekitar dua minggu kemudian saya mendapatkan surat balasan dari eyang. Saya tidak ingat lagi apa yang saya tuliskan dan apa isi surat balasan eyang, tapi saya ingat betul rasa bahagia saat menerima surat balasan bersama kata-kata awal yang saya baca di surat itu; Kepada Ytc Ananda Regina Pusparani Krisnamurthi. Waktu itu saya cuma tahu singkatan Yth – yang terhormat dan itu yang saya tujukan untuk eyang di surat awal saya, dan beliau membalasnya dengan Ytc – yang tercinta dengan lekukan tulisan sambung khas eyang. Meskipun seorang jawa tulen, beliau berdua tidak memegahkan diri dengan gelar keraton atau tunduk pada sistem patriarki Jawa. Eyang tidak memaksa cucu-cucunya harus menggunakan Krama Inggil untuk berbicara kepada mereka, namun akan menggunakan Krama Inggil dengan orang lain. Bentuk keutamaan lain yang saya pelajari dari eyang, yaitu selalu menghormati orang lain siapa pun dia. Saya ingat dulu seringkali ada penjual pecel keliling yang mengetuk pintu rumah setiap pagi untuk menjajakan makanan. Awalnya saya senang, eyang pasti membelikan tahu dan sate usus untuk saya, tapi lama-lama saya bosan juga kenapa sih si mbok ini nyamperin tiap hari. Lain halnya dengan Eyang Putri yang selalu menerima mbok pecel dengan senyum, membeli barang dagangannya, dan meladeni ramah-tamah basa-basi itu. Saya bertanya pada eyang mengapa ia tidak terganggu harus meladeni itu hampir setiap hari, ia menjawab bahwa kita harus bersyukur atas apa yang kita miliki dan berusaha membantu orang lain yang tidak seberuntung kita.

Eyang Soekandar juga senang bercerita tentang bagaimana pengalaman Eyang waktu jaman penjajahan Belanda dan Jepang. Bagaimana pengalamannya bersekolah di HIS, turut berjuang melawan Jepang dan Belanda, menyelundupkan senjata, hingga pengalamannya saat kecil. Ia juga suka bercerita tentang Eyang Yut dan membandingkan dengan bagaimana keadaannya sekarang. Saya seringkali menjadi sedih bahwa Eyang senang curcol betapa rindunya ia dengan riuh cucunya saat berkunjung, karena rumah Muntilan seakan-akan dijadikan hotel singgah saat berlibur. Hal ini kontras dengan suasana rumah Eyang Yut senantiasa dikelilingi oleh anak cucunya. Tetapi Eyang Kakung juga tidak mau tinggal bersama anak cucunya, ia ingin menjadi pribadi yang mandiri hingga di masa tuanya ini.

Terlalu banyak pembelajaran dan cerita, serta kasih sayang yang saya alami dari kedua eyang saya. Sekarang eyang sudah tidak lagi seaktif dan secemerlang dulu, dan semakin menyadari bahwa kondisi eyang bukanlah hal yang mudah bagi mereka dan bagi kita. Eyang bisa mengurus semua anak cucunya, tetapi kita belum tentu bisa mengurus beliau berdua. Setiap kali menelpon beliau, Eyang Putri tidak lagi menanyakan bagaimana hasil rapor tapi  menanyakan siapa ini suara di ujung saluran lain. Eyang Kakung tidak lagi bisa diajak jalan-jalan, karena beliau seringkali semaput. Memang eyang sudah tidak seperti dulu lagi, tapi justru saya masih bersyukur beliau berdua masih hadir di tengah-tengah kita menjadi pengamat kita. Tetapi tidak selayaknya eyang hanya cukup menjadi pengamat. Di tengah keterbatasan mereka, tetaplah kita melibatkan dan menyayangi mereka. Bahwa mereka tetaplah pribadi-pribadi signifikan dalam hidup kita.

IMG-20150115-WA0011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s